Prof Hamdan Juhannis kini resmi menduduki kursi jabatan Rektor UIN Alauddin Makassar untuk periode 2

  • 09 Agustus 2019
  • 07:21 WITA
  • Administrator
  • Berita

UIN Online - Prof Hamdan Juhannis kini resmi menduduki kursi jabatan Rektor UIN Alauddin Makassar untuk periode 2019-2023, menggantikan Prof Musafir MSi yang telah memimpin UIN Alauddin sejak 2015 lalu. Serah terima jabatan (Sertijab) dilaksanakan di Gedung Auditorium Kampus II UIN Alauddin Makassar, Rabu (31/07/2019).

Dalam sambutan terakhir Prof Musafir MSi sebagai Rektor UIN Alauddin Makassar mengatakan, semua capaian yang berhasil di raih pada masa jabatannya merupakan hasil kerja kolektif, seluruh bagian di UIN Alauddin Makassar, baik dari kalangan birokrasi hingga Mahasiswa.

Selain itu, ia juga menceritakan terkait sejumlah prestasi yang berhasil di raih UIN Alauddin pada masa jabatannya, salah satunya keberhasilan UIN Alauddin Makassar meraih akreditasi A, Capaian ini tentunya mengukuhkan posisi UIN Alauddin Makassar masuk dalam empat deretan Universitas Islam Negeri terakreditasi A dari 17 UIN seluruh Indonesia.

Sementara Prof Hamdan Juhannis  mengaku akan menjadikan kampus yang kini dipimpinnya sebagai trans intelektual muslim. Ia mengatakan, setiap civitas akadamika harus bertanggung jawab atas keilmuannya.

“Saya akan buat kereta keilmuan, agar mampu menjadi intelektual organik atau saya sebut trans intelektual Muslim. Semoga bisa jalan empat tahun kedepan,”ujarnya.

Dihadapan tamu undangan yang memenuhi Gedung Auditorium, Prof Hamdan Juhannis menjelaskan terkait target dimasa kepemimpinannya yang dirumuskan dalam Pancacita bidang akademik yaitu Prodi yang handal, moderasi Beragama yang mengakar, jejaring yang kuat, publikasi yang aktif, dan data yang terintegrasi. Sementara pancacita non akademik yaitu, Kampus yang asri, tradisi yang terjaga, bisnis yang produktif, kesejahteraan yang meningkat, dan alumni yang kompetitif. 

Tak hanya itu, lelaki kelahiran Bone ini , berjanji dalam 100 hari kerjanya akan menjalankan program kampus bebas sampah. Menurutnya, akademisi harus memiliki tradisi kebersihan.